Moody’s: Korporasi Indonesia Beresiko Tinggi Gagal Bayar Utang

gagal bayar utang

Berdasarkan hasil riset Moody’s Investor Service, salah satu lembaga pemeringkat, Indonesia termasuk 13 negara di Asia Pasifik yang memiliki resiko gagal bayar utang. Bank-bank di Indonesia rawan mengalami kredit macet karena tingginya potensi gagal bayar oleh korporasi.

Melansir Koran Tempo pagi ini, 2 Oktober 2019, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani meminta korporasi meningkatkan kehati-hatia akan resiko pembiayaan. Tentu permintaan Sri Mulyani ini secara langsung atau tidak, berkaitan dengan hasil riset Moody’s.

“Mereka (korporasi) harus meningkatkan kehati-hatian dari sisi apakah kegiatan korporasi akan menghasilkan pendapatan yang diharapkan,” kata Menkeu.

“Saya rasa yang disampaikan oleh lembaga pemeringkat itu adalah peringatan yang baik untuk menjadi pertimbangan para pengambil keputusan,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil riset Moody’s Investor Service berjudul ‘APAC Banks Face Growing Risk from Leveraged Corporate as Macroeconomic Condition Weaken’, Indonesia dan India termasuk negara yang resiko gagal bayar utang tinggi di area Asia-Pasifik.

“Pengujian stres yang kami lakukan – yang mengasumsikan penurunan 25% dalam EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization) – menunjukkan bank-bank di India dan Indonesia termasuk paling rentan terhadap penurunan kapasitas pembayaran utang perusahaan, diikuti oleh bank-bank di Singapura, Malaysia dan Cina,” kata Asisten Wakil Presiden dan Analis Moody, Rebaca Tan.

Nilai utang korporasi swasta dan BUMN hingga Juli 2019 berada di angka US$ 197,8 miliar atau setara Rp 2.769,2 triliun (kurs Rp 14.000).

Selengkapnya tentang hasil riset Moody’s: APAC banks face growing risk from leveraged corporates as macroeconomic conditions weaken

Baca juga: Bertebaran Grup Trabar Olymp Trade di Telegram, Haruskah Join VIP?

One Comment on “Moody’s: Korporasi Indonesia Beresiko Tinggi Gagal Bayar Utang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *