Tak Ada Lagi Petugas dalam Bus TransJakarta, Terkait Subsidi Dipangkas?

Transjakarta

Setiap hari saya berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan moda transportasi TransJakarta. Namun, ada yang berbeda saat saya mengantre bus untuk pulang pada Selasa (3 Desember) sore kemarin, di halte Dukuh Atas.

Di ujung antrean, seorang petugas sibuk memberitahu penumpang tentang bus yang baru datang adalah bus jurusan mana. Dia juga mengatur agar penumpang turun didahulukan, dan meminta penumpang yang naik untuk berhati-hati dengan langkahnya.

Semua yang petugas tersebut lakukan sama persis dengan yang biasa dilakukan petugas dalam bus.

Kemarin saya naik koridor 6, jurusan Dukuh Atas-Ragunan. Ketika bus datang rupanya di dalam bus masih ada petugas seperti biasanya. Saya pun berpikir “Oh TransJakarta mungkin menambah petugas khusus di halte-halte, bagus nih”.

Baca juga: WHO: 4 dari 5 Remaja Kurang Olahraga

Pagi tadi, 4 Desember, saya berangkat kerja dengan menaiki bus TransJakarta koridor 6B jurusan Ragunan-Monas via Semanggi.

Ketika saya naik, rupanya tak ada lagi petugas di dalam bus, hanya ‘mengantar’ dari halte. Para penumpang harus mandiri. Mandiri mengatur posisi agar tidak terlalu desak-desakan dan mandiri menentukan mana penumpang yang butuh prioritas dan tidak.

Ketika sampai di halte tujuan saya (Dukuh Atas), saya merasa tadi pagi memang tidak ada perbedaan signifikan dengan tidak adanya petugas dalam bus. Penumpang masih tertib. Hanya saya berpikir bagaimana jika tak setertib ini?

Begitu sampai di kantor, saya membuka Twitter dan mendapati pengumuman di akun TransJakarta bahwa benar sedang diuji coba tak menempatkan petugas dalam bus. Uji coba tersebut dilakukan di koridor tertentu saja, tapi termasuk 6B, koridor yang biasa saya naiki.

Membaca respons netizen terhadap uji coba tersebut, tak sedikit yang meminta untuk dikaji ulang.

Saya pribadi merasa bahwa kebijakan tersebut masih belum pas untuk diterapkan saat ini. Satu sisi pemerintah (pusat dan daerah) terus berusaha mendorong masyarakat naik transportasi umum, sisi lain kok malah uji coba kebijakan yang bisa membuat calon penumpang enggan.

Kemarin sempat baca di beberapa media lokal bahwa Pemprov DKI memangkas anggaran untuk subsidi beberapa transportasi umum di Jakarta pada 2020, salah satunya TransJakarta. Khusus TransJakarta sendiri, subsidinya dipangkas Rp 906 miliar. Sebelumnya Rp 4.197 triliun menjadi ‘hanya’ Rp 3.291 triliun.

Entah uji coba kebijakan ini ada hubungannya dengan pemangkasan anggaran tahun 2020 atau tidak. Menurut kalian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *