Aldo Davila, Anggota Parlemen Guatemala Pertama yang Mengaku Gay

aldo davila

Meski di Guatemala kampanye anti-LGBT masih merajalela, namun Aldo Davila tak gentar untuk mengungkap identitasnya sebagai seorang gay. Aldo Davila adalah anggota parlemen pertama di Guatemala yang secara terang-terangan memberitahu orientasi seksualnya.

Dikutip dari media Jerman DW, Davila yang lahir tahun 1977 memang sudah sejak remaha tertarik dengan dunia politik. Dia selalu berempati dengan orang-orang yang terpinggirkan di Guatemala.

Davila telah mendedikasikan bertahun-tahun hidupnya untuk membantu para HIV-positif dan menjadi anggota komunitas LGBTQI.

Menjelang pemilihan parlemen tahun lalu, sedikitnya ada empat partai yang meminangnya. Davila memilih Winaq, sebuah partai sayap kiri yang dibentuk oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Rigoberta Menchu.

Baca juga: Tentang Viral Pasangan Lesbian Asia Selatan: Anjali Cakra dan Sufi Malik

Alasan Davila memilih Winaq salah satunya karena Winaq dianggap sebagai partai yang punya rekam jejak paling bagus dalam memperjuangkan hak-hak orang yang orientasi seksualnya minoritas.

Selain itu karena Winaq dianggap Davila sebagai satu-satunya ‘partai adat’ di Guatemala yang memungkinkannya terhubung dengan akarnya (asal usul keturunan) sendiri.

Kakek-nenek buyut Davila adalah orang pribumi yang pindah ke Kota Guatemala. Di kota, mereka berhenti berbicara dengan bahasa asli untuk menghindari diskriminasi.

Pada 14 Januari 2020, Davila memulai masa jabatannya sebagai anggota parlemen Guatemala.

Baca juga: Menteri Pendidikan Israel: Homoseksual Itu Hal Tak Wajar

Berikut kutipan pernyataan Davila terkait keterpilihannya dan keputusannya untuk terbuka atas orientasi seksualnya:

Bagiku, terpilih berarti memikul tanggung jawab tidak hanya terhadap pemilih saya, tapi juga kelompok-kelompok yang secara historis tak dilibatkan di masyarakat, seperti remaja, wanita dan masyarakat adat. Mereka selalu diberi posisi lebih rendah. Sekarang aku ingin membawa aspirasi orang-orang ini di parlemen nasional.

Aku selalu ketakutan sepanjang hidup. Aku mendapat kiriman ancaman pembunuhan melalui telepon dan media sosial. Orang-orang membuntutiku dengan mobil dan motor. Mereka mengancamku karena aku memperjuangkan hak-hakku. Mereka ingin membungkamku.

Aku yakin aku berada di jalan yang benar. Aku harus terus bersuara atas nama mereka yang tidak pernah didengar.

Sumber foto: Twitter Winaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *