Menjaga jarak

jkt48 teater

Bukan, artikel ini bukan tentang menjaga jarak, memakai masker, dan menjauhi kerumunan, seperti yang lagi marak dikampanyekan saat ini. Bukan itu. Tapi ‘jarak’ dalam bentuk lain.

Beberapa waktu lalu, masih di bulan Maret ini, fandom JKT48 ramai oleh berita pertunangan seorang member yang baru aja graduate. Merayakan kelulusan di hari Minggu, mengunggah foto pertunangannya pada hari Senen (yang sejujurnya gue gak tau itu foto emang diambil hari Senen atau foto lama yang baru diupload aja).

Beragam reaksi muncul. Tak sedikit yang kaget, banyak juga yang kecewa. Entah kecewa sama membernya atau sama diri sendiri.

Sebagian lain memilih berlapang dada dengan mengucapkan ‘selamat’. Selamat tinggal mungkin maksudnya.

Jadi fans JKT48 emang sulit buat nonton-seneng-pulang-nonton-seneng-pulang. Sebagian fans JKT48, menurut gue, memosisikan member sebagai seseorang yang bisa mereka mungkinkan. Mungkin buat jadi pacar, atau lebih dari itu. Jadi fans tersebut sulit buat misahin suka performance-nya atau suka secara pribadi. 

Melibatkan perasaan selalu buruk untuk seorang fans JKT48? Jelas nggak dong.

Efek positifnya juga banyak kok. Misalnya, jadi semangat belajar, semangat kerja, jadi punya harapan intinya. Apalagi kalau member yang disukai ‘ngewaro’, jadi merasa diperhatiin gitu.

Tapi semua efek positif itu hanya akan terus ada selama… ekspektasinya bisa dijaga. Ekspektasi kalau suatu hari nanti dia bisa jadi milik kita, ekspektasi kalau si member menjaga ‘golden rules’ selama dia belum graduate, ekspektasi-ekspektasi lain yang dipatok di awal.

Menjaga ekspektasi itu luar biasa sulit. Ujung-ujungnya kadang cuma berakhir dengan.. baper sendiri. Si member (mungkin) mana peduli.

Buat para fans yang terlanjur idoling dengan melibatkan perasaan, kunci buat kurang-kurangin (senggaknya) ada dua. Pertama, ya sekalian aja sakit hati dengan ngeliat atau tau kalau member yang kita support keluar dari ekspektasi-ekspektasi itu. Kedua adalah nyari hobi baru atau… punya pacar.

Beberapa temen yang pensiun karena punya tambatan hati di luar idoling. Mereka berhasil mengalihkan perhatian, afeksi, waktu, dan sejenisnya ke orang yang baru.

Gue selalu inget kata-kata Dee Lestari di novel Perahu Kertas, lupa persisnya, cuma intinya dia nulis:

“kalimat bisa dimengerti hanya jika ada spasi, kita bisa bergerak jika ada jarak”.

Jadi buat temen-temen fans JKT48, idoling lah sewajarnya, memujalah secukupnya. Susah? Tentu. Apalagi setelah ngeliat peluang untuk ‘memungkinkan’ member tadi. Cuma, inilah salah satu cara kita gak sakit hati terlalu jauh, gak patah hati terlalu remuk.

Selamat menjaga jarak.

Baca juga: Perjalanan Mengalahkan Diri Sendiri Seorang Viona Fadrin

Sumber foto: Twitter JKT48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *