Ancaman rajam untuk LGBT Afghanistan

LGBT

Ketika Taliban mulai menguasai Kabul, Ibu Kota Afghanistan, pada 15 Agustus 2021, Ahmadullah (26), bukan nama sebenarnya, sedang makan di sebuah restoran di Kabul bersama pasangan pria-nya.

Kepada ABC, Ahmadullah bercerita saat itu mereka sedang sarapan. “Saya mengatakan kepadanya, ‘Pulanglah dan ketika sampai di rumah, hubungi saya,’ tapi saya tak pernah menerima teleponnya,” kata Ahmadullah. Di hari yang sama, Ahmadullah dikabari temannya bahwa pacarnya diseret dari rumahnya, dipukuli, dan dipenggal di jalan.

Ahmadullah termasuk bagian dari sekitar 700 kaum LGBT Afghanistan yang coba dievakuasi oleh sekelompok profesional dari Australia dan negara-negara lain. Kelompok profesional ini terdiri dari sekitar 15 orang, termasuk aktivis LGBT asal Afghanistan, Nemat Sadat. Sadat bisa dikatakan adalah orang Afghanistan yang pertama-tama secara terbuka mengaku sebagai gay. Bahkan dia juga mengkampanyekan hak-hak LGBT.

Tak kunjung berhasil mencapai Bandara Kabul yang dijaga ketat Taliban, Ahmadulllah hampir putus asa. Selama berminggu-minggu dalam pelarian, dia bersembunyi di beberapa lokasi, seperti di parit, semak-semak, atau rumah kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya. Kadang, posisinya hanya beberapa meter dari anggota Taliban. Ahmadulllah merasa lelah karena kurang makan dan tidur.

Baca juga: LGBT Pride dan Catatan untuk Pernikahan Sesama Jenis di Taiwan

Pada suatu ketika, seorang pria menyeretnya dari tempat persembunyiannya di sebuah ruangan gelap. Ketika Ahmadullah coba melawan, pria itu menikamnya. Ahmadullah pun terluka saat dia coba menahan pisau dengan lengannya.

“Saya mendorongnya dengan sangat keras. Saat dia jatuh, saya lari dan saya tidak melihat ke belakang lagi,” tulis Ahmadullah. “Saya mendengar dia berteriak, ‘Dia ada di sini. Dia ada di sini.’ Saya tidak melihat ke belakang. Saya terus berlari.”

Kini, Ahmadullah masih dalam pelarian dan berharap bisa terus bertahan.

Pada Juli lalu, surat kabar Jerman ‘Bild’ melaporkan bahwa seorang hakim Taliban bersumpah untuk menghukum mati laki-laki gay dengan cara dirajam atau dihancurkan dengan tembok setinggi 3 meter.

Ketika Taliban berkuasa pada 1990-an, homoseksualitas memang menjadi hal yang tabu dan pembunuhan-demi-kehormatan sering dilakukan terhadap kaum LGBT.

Source: abc.net.au